Aku Untuk Negeriku : Kesehatan
February 10, 2009
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang sehat. Setujukah anda? Mungkin jawaban kita berbeda-beda, namun sebagai mantan pekerja di bidang kesehatan, saya mengerti benar makna sehat.
Saya sering mengatakan ke teman atau siapa saja yang saya temui, “Sehat itu mahal, sakit lebih mahal lagi”. Tetapi harusnya paradigma atau slogannya berbunyi, “Sehat itu murah, sakit lebih murah lagi”. Bagaimana? Bisa tercapai, harusnya bisa. Bagaimana langkahnya. Pembangunan infrakstruktur fisik kesehatan yang lebih luas di seluruh Indonesia. Pemerintah harus memiliki rencana “Indonesia Sehat” untuk 20 tahun ke depan, dengan membaginya dalam masa kerja 5 tahun. Caranya, 5 tahun pertama pembangunan fisik dan penyiapan tenaga ahli. Tahun ke-6 sampai tahun ke-10, penyebar luasan jangkauan pelayanan dengan memberikan subsidi biaya pengobatan 50%, Tahun ke-11 sampai ke-15, masyarakat sadar bahwa kesehatan penting dan program nutrisi sehat, obat murah, biaya atau jasa murah. Nah tahun ke 16-20 sudah bisa dicapai pengobatan gratis, imunisasi gratis, jasa medis gratis yang semuanya sudah dialokasikan dari awal dengan penyertaan asuransi kesehatan, alokasi dana kesehatan yang jelas, pengelolaan rumah sakit, klinik pengobatan, puskesmas yang baik dan profesional. Kalau kesehatan hanya bicara sakit penyakit artinya bicara pengobatan. Semuanya ini bisa dilakukan kalau kita mau, kita bersama, maka kita pasti bisa.
Sekarang kita bicara kesehatan dari sisi pencegahan. Apa saja yang harus dicegah? Penyakit secara fisik. Ya, dengan pola hidup sehat, makanan yang bergizi, makanan organik (ayam tanpa suntik hormon, sayur tanpa pestisida, beras organik). Rantai industri ini harus dimulai saat ini, karena hal-hal kimiawi membawa akibat untuk tubuh dalam jangka panjang. Penyuluhan harus menjangkau seluruh Indonesia. Caranya media yang ada dipakai semua, baik koran, radio, televisi, internet, penyuluhan di Puskesmas, maupun kumpul-kumpul warga di tingkat RT.
Kesehatan yang lain adalah kesehatan pikiran. Ini juga perlu dilakukan di seluruh Indonesia. Masyarakat harus dimotivasi, dibekali dengan pemikiran positif, memiliki impian masa depan (banyak yang sudah tidak berani bermimpi karena keadaannya saat ini), ada ajakan dengan momentum yang besar dari pemimpinnya. Karena kalau masyarakat kita semangat, ethos kerja meningkat, produktivitas meningkat, ujungnya adalah kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup. Tetapi kesehatan pikiran saat ini belum dibentuk secara bersama, masih di kalangan terbatas, dengan pembicara yang sedikit. Pemimpin kita sekarang semua sedang sibuk mencari kekuasaan, popularitas, bukan melayani rakyatnya.
Kesehatan terakhir adalah kesehatan spiritual. Ini kembali lagi ke pemimpin keagamaan yang mau berdialog, tidak saling menyerang, saling hidup berdampingan, tidak menjelek-jelekkan. Para pemimpin spiritual harus bisa bekerja sama bergandengan tangan untuk membantu membangun negeri tercinta ini. Para pemimpin informal ini harus mampu menggalang kekuatan massanya untuk bersatu, hidup damai, tolong menolong tanpa memperhatikan status atau label apapun.
Pemerintah sebagai koordinator selayaknya mampu menggerakkan komunitas masyarakat atau kelompok yang ada bersama-sama membangun negeri tercinta ini. Pasti bisa!!
Aku Untuk Negeriku : posting pertama
February 9, 2009
Setelah dikejar-kejar pekerjaan rutin dan sedikit deadline, ternyata sudah berlalu 5 hari setelah tanggal aku daftar ikut lomba ini. Walaupun bukan lomba SEO tapi rasanya perlu juga mencari ide atau kata yang tepat.
Sepertinya terinspirasi dari lomba Speedy Blogging Competition, aku lebih senang menulis mengenai kehidupan dan aktivitas komunitas.
So let’s start
Test post
November 15, 2008
posting test
posting test



