Aku Untuk Negeriku : Kuliner

February 10, 2009

Kuliner lagi.  Ya itulah sepenggal kalimat seorang kawan, kalau saya bicara tentang acara makan.  Mungkin dia sudah jenuh.  Mengapa?  Karena dia berpikir, “Hidup untuk makan” saja temannya.  Tetapi saya merenung lebih jauh lagi, saat membuat resolusi 2009.  Sepanjang tahun lalu banyak persiapan yang saya lakukan, tetapi belum berhasil dieksekusi karena keadaan tanah air kita yang luar biasa.  Tetapi tahun ini rasanya harus berjalan, karena persiapan yang matang akan mendatangkan efek yang baik.

Bicara kuliner sepertinya membosankan, ya?  Tiap hari di layar TV bagi para penggemarnnya pasti ada saja acara yang disajikan, baik itu makan-makannya, lomba membuat makanannya, jalan-jalan yang diselingi dengan acara makan.  Ya itulah industri televisi, harus menjual sesuatu yang menarik dan dikemas dengan kreatif.  Tetapi apa yang sesungguhnya ada di baliknya.

Ambil contoh saja seorang pakar di salah satu program acara membahas menu makanan di restoran X didaerah Y.  Tidak lama berselang restoran X ini akan langsung diserbu para penggilan kuliner, sekedar mencicipi menu yang dibawakannya.  Ilusi?  Bukan teman, ini kejadian nyata dari mulut seorang teman baik yang kebetulan mengelola dan memiliki beberapa restoran seafood.

Apa yang bisa kita lakukan untuk negeri tercinta ini.  Industri kuliner adalah industri pendukung untuk kegiatan pangan.  Mari kita analisa secara ringkas saja.  Sebuah rumah makan, pasti membutuhkan tempat, membutuhkan bangunan (properti) yang sudah pasti memerlukan tenaga kerja saat membangunnya.  Rumah makan membutuhkan peralatan masak, meja, kursi, piring, sendok, garpu, gelas, cangkir, taplak dan sederet barang-barang pendukungnya.  Dengan banyaknya rumah makan, maka secara fisik kita bisa melihat ada banyak industri yang ikut terseret didalamnya.

Kalau bicara makanan atau menu makanan, maka kita pasti bisa melihat langsung berapa besarnya industri yang terserap, coba saja, ada beras, sayur-mayur, daging dengan bermacam variasinya (ayam, ikan, sapi, kambing, domba, ikan laut, ikan empang), buah-buahan.  Ada lagi tissue, sabun cuci tangan, sabun cuci piring, pembuangan sampah (organik yang bisa diolah jadi kompos), litrik, telepon, internet, komputer dan sebagainya.

Nah kalau kita sebut saja hasil pertanian, berapa besar potensinya, karena ada berbagai macam bumbu dapur, rempah-rempah, yang dipakai oleh industri kuliner ini.  Sudah saatnya kita mengganti mindset atau pola pikir kita, dengan “menjual” menu makanan kita keluar negeri.  Impian saya Indonesia menjadi tempat wisata kuliner terbesar di dunia, pengekspor rumah makan untuk makanan asli Indonesia, pengekspor rempah-rempah, penghasil franchise makanan terbesar di dunia.  Bisakah?  Pasti bisa.  Mari kita bersama-sama melakukannya.

Aku Untuk Negeriku : Kesehatan

February 10, 2009

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang sehat.  Setujukah anda?  Mungkin jawaban kita berbeda-beda, namun sebagai mantan pekerja di bidang kesehatan, saya mengerti benar makna sehat.

Saya sering mengatakan ke teman atau siapa saja yang saya temui, “Sehat itu mahal, sakit lebih mahal lagi”.  Tetapi harusnya paradigma atau slogannya berbunyi, “Sehat itu murah, sakit lebih murah lagi”.  Bagaimana?  Bisa tercapai, harusnya bisa.  Bagaimana langkahnya.  Pembangunan infrakstruktur fisik kesehatan yang lebih luas di seluruh Indonesia.  Pemerintah harus memiliki rencana “Indonesia Sehat” untuk 20 tahun ke depan, dengan membaginya dalam masa kerja 5 tahun.   Caranya, 5 tahun pertama pembangunan fisik dan penyiapan tenaga ahli.  Tahun ke-6 sampai tahun ke-10, penyebar luasan jangkauan pelayanan dengan memberikan subsidi biaya pengobatan 50%, Tahun ke-11 sampai ke-15, masyarakat sadar bahwa kesehatan penting dan program nutrisi sehat, obat murah, biaya atau jasa murah.  Nah tahun ke 16-20 sudah bisa dicapai pengobatan gratis, imunisasi gratis, jasa medis gratis yang semuanya sudah dialokasikan dari awal dengan penyertaan asuransi kesehatan, alokasi dana kesehatan yang jelas, pengelolaan rumah sakit, klinik pengobatan, puskesmas yang baik dan profesional.  Kalau kesehatan hanya bicara sakit penyakit artinya bicara pengobatan.  Semuanya ini bisa dilakukan kalau kita mau, kita bersama, maka kita pasti bisa.

Sekarang kita bicara kesehatan dari sisi pencegahan.  Apa saja yang harus dicegah?  Penyakit secara fisik.  Ya, dengan pola hidup sehat, makanan yang bergizi, makanan organik (ayam tanpa suntik hormon, sayur tanpa pestisida, beras organik).  Rantai industri ini harus dimulai saat ini, karena hal-hal kimiawi membawa akibat untuk tubuh dalam jangka panjang.  Penyuluhan harus menjangkau seluruh Indonesia.  Caranya media yang ada dipakai semua, baik koran, radio, televisi, internet, penyuluhan di Puskesmas, maupun kumpul-kumpul warga di tingkat RT.

Kesehatan yang lain adalah kesehatan pikiran.  Ini juga perlu dilakukan di seluruh Indonesia.  Masyarakat harus dimotivasi, dibekali dengan pemikiran positif, memiliki impian masa depan (banyak yang sudah tidak berani bermimpi karena keadaannya saat ini), ada ajakan dengan momentum yang besar dari pemimpinnya.  Karena kalau masyarakat kita semangat, ethos kerja meningkat, produktivitas meningkat, ujungnya adalah kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup.  Tetapi kesehatan pikiran saat ini belum dibentuk secara bersama, masih di kalangan terbatas, dengan pembicara yang sedikit.  Pemimpin kita sekarang semua sedang sibuk mencari kekuasaan, popularitas, bukan melayani rakyatnya.

Kesehatan terakhir adalah kesehatan spiritual.  Ini kembali lagi ke pemimpin keagamaan yang mau berdialog, tidak saling menyerang, saling hidup berdampingan, tidak menjelek-jelekkan.  Para pemimpin spiritual harus bisa bekerja sama bergandengan tangan untuk membantu membangun negeri tercinta ini.  Para pemimpin informal ini harus mampu menggalang kekuatan massanya untuk bersatu, hidup damai, tolong menolong tanpa memperhatikan status atau label apapun.

Pemerintah sebagai koordinator selayaknya mampu menggerakkan komunitas masyarakat atau kelompok yang ada bersama-sama membangun negeri tercinta ini.  Pasti bisa!!

Aku Untuk Negeriku : Keuangan

February 10, 2009

Apa yang akan dibahas bila kita bicara sektor keuangan?  Ada banyak, tetapi bagian yang penting adalah bagaimana uang yang ada itu berputar terus.  Ilustrasinya, kalau anda punya uang berlebih jangan hanya disimpan di bank atau di bawah bantal, tetapi buatlah sesuatu usaha sehingga uang anda tidak berhenti disitu, ada pertukaran.  Buat bisnis?  Ya, jadilah wirausaha dalam skala terkecil sekalipun, karena perputaran uanglah yang nantinya akan membuat maju bangsa ini.

Bagaimana kalau uang dalam skala yang besar.  Pemerintah dapat mendorong perputaran dengan menurunkan bunga kredit.  Selain menekan habis angka inflasi, kita harus mendorong ekspor sebesar-besarnya.  Industri keuangan kita harus bisa semakin hari semakin baik, bukannya menjual semakin banyak bank kita ke negara lain atau perusahaan asing, seperti yang terjadi saat ini.  Sebagai contoh, lihat saja kepemilikan bank swasta kita, seperti Bank Danamon, Bank Niaga, Bank Lippo, Bank NISP, Bank Buana, yang sudah berganti juragan sehingga namanya juga akan berganti.  Sah-sah saja sih secara hukum, namun kita harusnya bisa memikirkan skala kebangsaan kita.

Perbankan harus didorong untuk memberikan kredit semacam KUR dalam skala yang jauh lebih besar dari nomimal maupun jumlah nasabah.  Macet?  Sudah pasti ada, tapi kita semua pasti tidak ingin usaha yang dibangun akan bangkrut.  Harus ada solusi, harus ada jalan keluar, harus ada pendampingan, harus ada penilaian yang wajar, harus ada keberanian untuk bertindak.  Hapus rentenir, lintah darat, sistem ijon atau apapun yang menjerat rakyat, dengan pemberian kredit yang ringan ini, mempercayakan pengelolaan uang pada rakyat kecil.  Pemerataan pendidikan maupun manajemen pengolahan uang sampai di tingkat pedesaan.

Caranya, dibentuklah kelompok-kelompok masyarakat yang bersih, yang berniat maju, yang mau masa depannya lebih baik.  Kelompok-kelompok inilah yang didampingi tenaga yang terlatih di bidangnya.  Bisa juga dibentuk koperasi-koperasi.

Selain pengucuran kredit, tetapi juga dibarengi dengan proteksi atau asuransi kerugian.  Ini juga sektor yang belum disentuh dan dipikirkan.  Misalnya asuransi untuk pertanian dengan premi yang kecil.  Kalau untuk kendaraan bermotor (motor dan mobil) maka kita sudah mengerti, kalau hilang atau terjadi tabrakan maka kita tinggal melakukan klaim, akan dilakukan perbaikan atau penggantian.  Nah untuk pertanian, perikanan, hasil hutan juga bisa dilakukan.  Caranya diatur bersama-sama.  Pasti bisa.

Aku Untuk Negeriku : Properti

February 10, 2009

Kalau kita bisa properti artinya kita bicara topik pangan, sandang dan papan.  Pangan sudah disentuh di artikel sebelumnya, sandang di artikel berikutnya.  Papan atau properti sangatlah berarti untuk setiap manusia.  Mengapa demikian?  Karena semua orang butuh tempat tinggal atau rumah.  Sudahkan hal ini tercapai?  Akan terjadi kondisi ideal, tetapi sekarang belum.

Kalau memang Pemerintah bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat mau, maka industri perumahan, properti atau infrastruktur bisa dikerjakan dengan skala Super Mega Proyek.  Maksudnya?  Ya tidak hanya sekedar bicara-bicara saat peresmian, seperti waktu pencanangan 1000 tower untuk rusunami, tetapi memang dikerjakan secara sungguh-sungguh.  Apa saja yang perlu disiapkan.  Visi. Ya visi, karena dengan visi maka seluruh persiapan baik itu aturan perundangan, perijinan bisa disiapkan dalam waktu 1 bulan misalnya.

Pembangunan rumah murah untuk warga bisa dilakukan di seluruh tanah air, dan ini juga berarti penyerapan lapangan kerja yang luar biasa besarnya, dan terserap serentak, angka penangguran bisa ditekan secepat mungkin.  Selain pekerjaan fisik untuk pembangunan perumahan dan infrastruktur tetapi lapangan kerja juga diserap di industri pendukungnya.  Industri pendukung seperti, semen, besi beton, penyedia pasir, batu bata, tripleks, engsel pintu, kunci pintu, kabel listrik, lampu, cat, genteng, rangka baja untuk atap, dan masih banyak lagi.  Semuanya akan bergerak artinya ada perputaran uang yang jumlahnya cukup besar.

Demikian juga pembangunan infrastruktur, baik itu jalan, pelabuhan laut, lapangan terbang, bendungan, saluran irigasi, banjir kanal, jalan tol, jalur kereta ganda, sekolah dari tingkat TK sampai SMU bahkan perguruan tinggi.  Ini semua baru di tingkat pemerintah, belum lagi pembangunan yang dikerjakan oleh swasta ataupun perorangan.   Semuanya bisa dilakukan secara bersama dan dengan sinergi yang tinggi.

Kalau prinsip kita masing-masing mau melayani, tidak mustahil semuanya bisa diwujudkan, karena yang dicari bukan kekuasaan atau kekuatan tapi semangat membangun.  Kita pasti bisa.

Aku Untuk Negeriku : Teknologi

February 10, 2009

Kalau kita bicara teknologi, mungkin yang ada di dalam pikiran kita adalah Komputer, Handphone maupun alat elektronik lainnya.  Tetapi memang itulah yang terjadi, semua karena pengaruh media yang sangat kuat.  Sebagai artikel untuk lomba, maka saya mengangkat beberapa ide yang mungkin relevan untuk bisa dikembangkan di Indonesia.  Ide ini memang bisa orisinil, modifikasi atau entah apa yang ada di pikirin anda sekalian.

Aku Untuk Negeriku, memang suatu pemikiran yang baik dari kita sebagai anak bangsa dan menyumbang untuk bangsa tanpa memikirkan apakah ide kita ini harus dibayar.  Nasionalis ya.  Memang demikianlah seharusnya.

Apa yang bisa kita terapkan dengan komputer.  Indonesia kaya akan manusia pintar, tapi masih memikirkan diri sendiri.  Kalau kita bersatu, kita tidak hanya mampu membuat aplikasi komputer saja seperti microsoft tetapi juga mampu menghasilkan komponen atau membangun industri perangkat kerasnya.  Maksudnya kita mampu membuat seluruh komputer itu di Indonesia.  Ada yang berpikir bahwa kita bisa saja membeli dengan harga murah di luar negeri, Taiwan misalnya.  Masih banyak industri lain yang bisa dibangun, handphone, televisi, mesin cuci maupun perangkat elektronik lainnya, yang kalau memang dikelola dengan baik dan didukung pemerintah, kita mampu menjadi eksportir nomor satu.  Tetapi ide saya, kalau memang kita mampu dan mau maka seluruh komponen terkait bisa di buat di Indonesia.  Dengan adanya industri artinya ada pasar baru untuk tenaga kerja.  Berapa banyak angka pengangguran ditekan.

Apa yang bisa kita terapkan dengan aplikasi komputer maupun handphone. Banyak sekali kan.  Indonesia mampu melakukannya.  Contohnya, aplikasi handphone Esia Hidayah, dihasilkan oleh anak bangsa yang sudah menimba ilmunya di Amerika, dan kembali ke Indonesia untuk membuatnya. Aplikasi gratis open source bila dikembangkan secara serius bisa dirasakan manfaatnya.  Dunia blog sekarang saja sudah luar biasa, hanya tinggal siapa yang bisa mengelolanya, menghimpunnya menjadi kekuatan yang baru.  Kalau memang rasa nasionalisme kita tinggi maka akan banyak sekali anak bangsa ini yang kembali setelah belajar dan membangun negerinya.  Negeri Impian yang bisa diwujudkan.

Apa yang bisa kita terapkan dengan teknologi pangan.  Indonesia memiliki universitas khusus pertanian, dan sudah banyak penelitian yang dihasilkan.  Kita sanggup memenuhi kebutuhan pangan sendiri, seperti beras unggulan, jagung unggulan.  Tetapi selain bibit-bibit, kita di Indonesia juga harus bisa menyediakan sarana pendukung unggulan lainnya.  Indonesia harus bisa memasarkan pupuk unggulan organik.  Organik? Ya.  Karena pupuk kimia, seperti kita tahu membuat pencemaran yang cukup tinggi dan membuat kerusakan dalam tubuh manusia.  Artinya ada industri pertanian yang dibangun dengan baik, walaupun membutuhkan dana yang besar, sekali lagi kalau kita lakukan bersama pasti bisa.

Apa yang bisa kita terapkan dalam teknologi perikanan.  Indonesia harus mampu membangun industri perikanan dengan baik.  Apanya?  Kapal bagi nelayan harus bisa ditingkatkan, bukan dengan perahu kecil dengan motor tempel seperti di kebanyakan nelayan.  Pemerintah harus memiliki tekad untuk membangun industri perkapalan yang kuat untuk nelayan.  Ingat kasus pukat harimau, atau kapal nelayan asing yang ditangkap.  Harusnya nelayan Indonesia melakukannya, bukan mereka.  Indonesia harus mampu membuat industri pengolahan hasil laut, tidak hanya menghasilkan ikan asin.  Tetapi ikan hasil tangkapan diolah dengan baik, dikemas dengan baik, dijual ke luar negeri atau diekspor.  Sekali lagi kalau kita lakukan bersama-sama pasti bisa berhasil.

Aku Untuk Negeriku : posting pertama

February 9, 2009

Setelah dikejar-kejar pekerjaan rutin dan sedikit deadline, ternyata sudah berlalu 5 hari setelah tanggal aku daftar ikut lomba ini.  Walaupun bukan lomba SEO tapi rasanya perlu juga mencari ide atau kata yang tepat.

Sepertinya terinspirasi dari lomba Speedy Blogging Competition, aku lebih senang menulis mengenai kehidupan dan aktivitas komunitas.

So let’s start

Test post

November 15, 2008

posting test

posting test